Nama : Ryan Aditiawarman S
Kelas : 1EA11
NPM : 15217421
Kelas : 1EA11
NPM : 15217421
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masyarakat
Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di
dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di dalam
masyarakat kita terlihat dalam beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat
kita pungkiri bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa,karsa manusia yang
menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia. telihat realita bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku
bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri khas kebudayaan
yang berbeda-beda. Sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, suku Sunda
memiliki karakteristik yang membedakannya dengan suku lain.Seperti halnya
busana, Setiap suku memiliki karakteristik berbeda sebagai identitas yang diwujudkan
dalam bentuk pakaian adat atau khas, adat istiadat, lagu-lagu daerah, maupun
bahasa. hal tersebut dapat dijadikan suatu ciri khas dari setiap suku atau
daerah yang secara umum bertujuan agar mudah dikenal oleh masyarakat luas.
1.2 TUJUAN
1.
agar pembaca mengetahui pernikahan adat sunda
2.
untuk mendapatkan nilai ilmu budaya dasar 1
3.
agar pembaca lebih memahami budaya sunda
1.3 RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana pernikahan adat sunda
2.
Apa Mata Pencaharian masyarakat sunda
3.
Apa saja kesenian budaya sunda
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pernikahan Adat Sunda
Pernikahan
Adat Sunda rangkaian acaranya di mulai dari pembicaraan orang tua dari pihak kedua
mempelai sampai acara yang dinamakan: muka panto (buka pintu). Bagi banyak
orang Sunda, tahap-tahap proses adat pernikahan wajib dilakukan. berbagai
proses acara pernikahan khas Sunda sebelum dan sesudah pernikahan adalah
sebagai berikut:
1. Tahap
Nendeun Omong.
Tahap ini adalah pembicaraan orang tua kedua pihak
mempelai atau siapapun yang dipercaya jadi utusan pihak pria yang punya rencana
mempersunting seorang gadis sunda. Orang tua atau sang utusan datang
bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak sang gadis akan dilamar.
Sebelumnya memang orang tua masing-masing sudah membuat kesepakatan untuk
menjodohkan atau laki-laki dan perempuannya sudah sepakat untuk ‘mengikat
janji’ dalam suatu ikatan pernikahan, maka selanjutnya orang tua pria datang
sendiri atau menyuruh orang ke rumah sang gadis untuk menyampaikan niat.
Intinya, neundeun omong (titip ucap, menaruh perkataan atau menyimpan janji)
yang menginginkan sang gadis agar menjadi menantunya. Dalam hal ini, orang tua
atau utusan memerlukan kepandaian berbicara dan berbahasa, penuh keramahan.
2. Tahap
Lamaran.
Tahap melamar atau meminang ini sebagai tindak lanjut
dari tahap pertama. Proses ini dilakukan orang tua calon pengantin keluarga
sunda dan keluarga dekat. Hampir mirip dengan yang pertama, bedanya dalam
lamaran, orang tua laki-laki biasanya mendatangi calon besannya dengan membawa
makanan atau bingkisan seadanya, membawa lamareun sebagai simbol pengikat
(pameungkeut), bisa berupa uang, seperangkat pakaian, semacam cincin
pertunangan, sirih pinang komplit dan lainnya, sebagai tali pengikat kepada
calon pengantin perempuannya. Selanjutnya, kedua pihak mulai membicarakan waktu
dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
3. Tahap
Tunangan.
Tahap ini adalah prosesi ‘patuker beubeur tameuh’,
yaitu dilakukan penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si
gadis.
4. Tahap
Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan).
Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot
rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
5. Tahap
Ngeuyeuk seureuh (opsional, jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka
seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah). Tahap ini dilakukan sebagai
berikut:
1. Dipimpin Pengeuyeuk.
2.
Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada
kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda
yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
3. Diiringi lagu kidung oleh Pangeuyeuk
4. Disawer beras, agar hidup sejahtera.
5. dikeprak dengan sapu lidi disertai
nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
6. Membuka kain putih penutup pengeuyeuk.
Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
7. Membelah mayang jambe dan buah pinang
(oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat
menyesuaikan diri.
8. Menumbukkan alu ke dalam lumpang
sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
6. Tahap Membuat Lungkun. Dua lembar sirih
bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan
benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar
kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan
handai taulan.
7.
Tahap Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari
rejeki dan disayang keluarga.
8.
Tahap Upacara Prosesi Pernikahan:
1. Penjemputan calon pengantin pria , oleh utusan dari
pihak wanita
2.
Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga
melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon
pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
3.
Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat
nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan
di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang
berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua
mempelai akan menandatangani surat nikah.
4. Sungkeman,
5. Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau
keluarganya.
6.
Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer
dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua
pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke
atas payung.
7. Meuleum harupat, pengantin wanita
menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi
air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
8.
Nincak endog (menginjak telur), pengantin pria menginjak telur dan elekan
sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin
wanita.
9.
Muka Panto (buka pintu). Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab
dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat
syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.
2.2 Unsur Kebudayaan adat sunda
Suku
Sunda (Urang Sunda) adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau
Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah
administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat
Jawa Tengah (Banyumasan). Orang Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia,
dengan provinsi Banten dan Jawa Barat sebagai wilayah utamanya. Agama Mayoritas
Islam, namun ada sedikit yang beragama Sunda Wiwitan, Hindu dan Kristen
Kelompok etnis terkait
Suku
Baduy, Suku Jawa, Suku Banten, Suku Betawi, Suku Lampung, Suku Cirebon, Suku
Bali, dan penutur bahasa Austronesia lainnya. Wanita Sunda pemetik teh pada
masa Hindia Belanda
Jati
diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda
dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja.
Sistem Pengetahuan
Pendidikan
di suku sunda sudah dibilang sangat berkembang baik. Terlihat dari peran
pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan
pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus
dipenuhi dalam pelayanan pemerintah. Pembangunan pendidikan merupakan salah
satu bagian yang sangat vital dan fundemental untuk mendukung upaya-upaya
pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan
dasar bagi pembangunan lainnya, menginggat secara hakiki upaya pembangunan
pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku
pembangunan.Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa
orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Orang sunda juga adalah yang pertama
kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain.
Mata pencaharian pokok masyarakat
sunda adalah :
Ø Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh,
kelapa sawit, karet dan kina
Ø Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan
sayur-sayuran
Ø Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan
perikanan ikan payau
Ø Selain bertani, berkebun dan mengelola
perikanan, ada juga bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, peternak.
Kesenian
Masyarakat
sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat jenis kesenian
diantaranya seperti :
Ø Seni Bangunan
Rumah
adat tradisional msayarakat sunda adalah berbentuk keraton kesepuhan cirebonan
yang memiliki 4 ruang, yaitu sebagai berikut :
1. Pendopo yaitu tempat untuk keselamatan
sultan
2. Pringgondani yaitu tempat untuk sultan
memberikan perintah kepada adipati
3. Prabayasa yaitu tempat sultan menerima tamu
(ruang Tamu)
4. Panembahan yaitu ruang kerja dan tempat
istirahat sultan
Ø Seni Tari
Tari
yang terkenal di masyarakat sunda adalah tari topeng, tari merak, tari
sisingaan dan tari jaipong.
Ø Seni Suara dan musik
Alat
musik tradisional masyarakat sunda adalah angklug, calung, kecapi, dan degung.
Alat musik ini digunakan untuk mengiringi tembang. Tembang adalah puisi yang di
iringi oleh kecapi dan suling. Salah satu lagu tradisional masyarakat sunda
yaitu : Bubuy Bulan, Manuk dadali dan Tokecang.
Ø Seni Sastra
Sunda
sangat kaya akan seni sastra, contohnya Prabu Siliwangi yang diungkapkan dalam
bentuk pantun dan Si Kabayan yang diungkapkan dalam bentuk prosa.
Ø Seni Pertunjukan
Pertunjukan
yang paling terkenal di suku sunda adalah Wayang Golek. Wayang golek adalah
boneka kayu dengan penampilan yang sangat menarik dan kreatif.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Banyak
kebudayaan diindonesia, masing masing punya ciri dan adatnya masing masing,
contohnya sunda. Orang sunda terkenal sebagai orang yang jujur dan pekerja
keras. Tradisi pernikahan yang unik namun sedikit rumit juga menjadi daya tarik
kebudayaan sunda.
3.2 SARAN
Semoga,
kebudayaan sunda atau tradisi adat sunda tidak tergerus oleh zaman modern ini.
Masyarakat Indonesia khususnya masyarakat sunda perlu memperhatikan ke
eksistensian adat ini, karena jika tidak adat adat atau tradisi sunda akan lama
kelamaan menghilang.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Komentar
Posting Komentar